Kantor Pelayanan BMT Artha Barokah Buka Setiap Senin - Sabtu Pukul 08.00 - 15.00 WIB

Allah SWT Belum Menjamin Surga-Nya untuk Kita

“Engkau sangat berusaha untuk perkara yang sudah dijamin Allah, tapi lalai terhadap tugas yang diwajibkan atasmu adalah pertanda padamnya mata hatimu.”

Ini adalah bunyi kalimat hikmah kelima dari Kitab Al Hikam Ibnu Athaillah. Isinya menekankan tentang perilaku keliru banyak orang menyikapi antara masalah rizki dan menjalani perintah Allah swt. Tidak sedikit manusia yang menempati secara terbalik perihal dua masalah ini. Antara rizki yang telah dijamin dan terukur dari Allah swt kepada semua makhluk-Nya, dan keharusan menjalankan perinah Allah swt. Yang banyak dilakukan kita adalah sangat berusaha keras mencari rizki, memberikan porsi waktu dan perhatian yang begitu besar dalam mencari harta. Tapi usaha keras tersebut, kemudian mengorbankan ketaatan dalam melakukan perintah Allah swt. Rizki sudah dijamin oleh Allah, mengapa melakukan sesuatu luar biasa untuk mencarinya hingga mengabaikan perintah Allah yang harus dilakukan? Demikian bunyi pertanyaannya.

Saudaraku, Para ulama banyak mengomentari ungkapan Ibnu Athaillah tersebut. Di antara mereka ada yang meyebutkan bahwa perilaku yang disebut itu, merupakan bukti kurangnya rasa percaya seorang hamba terhadap janji Allah Yang Menyatakan telah menjamin rizki bagi setiap makhluk. Sebab satu hal yang harus kita yakini sebagai bukti keimanan, adalah tak ada satupun makhluk Allah, baik binatang, tumbuhan sampai benda mati sekalipun, kecuali Allah swt menciptakannya di atas satu tugas atau fungsi tertentu. Semuanya diarahkan untuk bisa memenuhi fungsi dan menjalani tugasnya. Benda paling kecil yang dikenal manusia seperti atom misalnya, memiliki tugas dan fungsinya. Demikian juga benda terbesar seperti matahari dan semacamnya. Semua memiliki tugas dan fungsinya sendiri-sendiri. Dalam Al-Qur’an hal ini disinggung dalam surat An Nur ayat 41, “Semuanya telah mengetahui bagaimana cara do’a dan tasbihnya.” Saudaraku, Renungkanlah ayat itu. Inilah yang dihayati oleh Nabi Musa As sehingga ia memberi pernyataan yang begitu argumentatif saat berhadapan dengan Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan. Musa As mengatakan, “Tuhan kami Yang Memberi misi pada semua yang diciptakan-Nya, kemudian memberi petunjuk.” (QS Thoha : 50). Maksudnya adalah Allah swt memberikan bentuk dan karakter segala ciptaan-Nya sesuai misi yang dikehendaki oleh-Nya, kemudian memberinya petunjuk untuk mencapai misi yang dibebankan kepada ciptaan-Nya itu. Kita sama dengan makhluk-makhluk Allah swt yang lain karena kita memiliki misi dalam penciptaan. Bedanya, makhluk lain selain manusia menjalani fungsinya secara sukarela maupun terpaksa, atau sejalan dengan insting tabiatnya. Sedangkan manusia, Allah tetapkan memiliki pilihan, kebebasan dan keinginan dalam menjalani misinya. Pembedaan ini sebenarnya merupakan bentuk pemuliaan terhadap manusia sehingga kedudukannya menjadi lebih istimewa dibanding hewan dan ciptaan Allah lainnya yang dikendalikan oleh insting dalam menjalani misinya. Pembedaan ini sebenarnya merupakan bentuk pemuliaan terhadap manusia sehingga kedudukannya menjadi lebih istimewa dibanding hewan dan ciptaan Allah lainnya yang dikendalikan oleh insting dalam menjalani misinya. Perhatikanlah bagaimana Allah swt melukiskan ketundukan ciptaan-Nya selain manusia dalam firman-Nya yang artinya, “Apakah kamu tiada mengetahui bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?” (QS Al Hajj : 18)

Saudaraku Penting kita sadari, sisi keistimewaan manusia dibanding makhluk yang lain itu ternyata menjadikannya memiliki resiko membangkang atau menolak perintah menjalani fungsi dari Allah swt. Karena itu manusia lebih memilih bersusah payah dan habis-habisan dalam mengejar rizki yang sudah dijamin oleh Allah, dengan mengabaikan kewajiban yang diperintahkan. Inilah penjelasan perkataan Ibnu Athaillah di atas. Tentu ini tidak berarti kita dilarang serius dang bersungguh-sungguh melakukan pekerjaan di dunia yang hasilnya sudah dijamin oleh Allah. Nasihat Ibnu Athaillah tadi berlaku bila kesibukan dunia yang kia lakukan telah memalingkan kita dari melaksanakan fungsi dan kewajiban Islam. Menunda shalat saat azan dengan alasan kesibukan berdagang dan semacamnya, adalah contoh yang paling mudah kita alami.

Saudaraku, Keseriusan dan kerajinan dalam bekerja dianjurkan dalam hadits dari Kaab bin Ajrah ketika Rasul saw keluar bersamanya dan sejumlah sahabat. Ketika itu mereka melihat seorang laki-laki begitu giat bekerja. Mereka melihat ketangguhannya dan kerajinannya yang begitu menakjubkan. Salah seorang sahabat mengatakan, “Sayang sekali orang ini, andaikan saja apa yang ia lakukan itu di jalan Allah.” Rasul saw mengatakan, “Jika seseorang bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah, jika ia keluar untuk orang tuanya yang sudah tua maka ia di jalan Allah, jika ia keluar berusaha untuk dirinya agar tidak meminta-minta maka ia di jalan Allah, kalau dia bekerja untuk istri dan keluarganya maka ia di jalan Allah. Tapi bila ia keluar untuk berbangga-bangga, berlomba dengan banyaknya harta, dia ada di jalan syaithan.” Saudaraku, Allah telah menjamin rizki untuk kita, tapi belum menjamin surga-Nya untuk kita.

Sumber: Tarbawi Edisi 270 Th. 13, Rabiul Tsani 1433, 8 Maret 2012

Terimakasih

Form kamu telah kami terima. Silahkan tunggu yah, beberapa saat lagi kami akan menghubungi kamu. Atau silahkan klik tombol dibawah ini yah untuk konfirmasi.

× Hubungi Kami!